Oleh :
Aninda Salsabila
( Mahasiswa KPI STAI PTDII Jakarta)
Konflik antara Iran dan Israel bukanlah konflik bilateral biasa. Ia merupakan refleksi dari perseteruan panjang antara dua kekuatan regional yang memiliki kepentingan politik, militer, dan ideologi yang saling bertolak belakang. Iran, sebagai negara mayoritas Syiah dengan semangat Revolusi Islam 1979, memandang keberadaan Israel sebagai bentuk “penjajahan Zionis” atas wilayah Palestina. Sementara itu, Israel menganggap Iran sebagai ancaman eksistensial karena retorika anti-Zionisme dan dukungannya terhadap kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza
Ketegangan ini semakin diperparah dengan perlombaan senjata dan perkembangan program nuklir Iran yang ditentang keras oleh Israel dan sekutunya. Selain itu, konflik proksi antara keduanya telah memperluas cakupan konflik ke berbagai wilayah seperti Suriah, Lebanon, dan Irak.
Ideologi vs Keamanan
Setelah Revolusi Islam 1979, Iran mengadopsi kebijakan luar negeri yang anti-Israel dan pro- Palestina. Ayatollah Khomeini menyebut Israel sebagai “setan kecil”, dan menolak keberadaan negara Yahudi tersebut di wilayah Palestina. Di sisi lain, Israel menganggap Iran sebagai ancaman utama karena dukungannya terhadap milisi bersenjata anti-Israel dan program nuklirnya yang dinilai memiliki potensi militer. Iran dan Israel tidak terlibat langsung dalam perang terbuka, namun konflik proksi terus berlanjut. Iran mendanai dan mempersenjatai kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Sebaliknya, Israel melancarkan serangan udara ke fasilitas Iran di Suriah untuk mencegah transfer senjata ke Hizbullah.
Program nuklir Iran menjadi pemicu utama ketegangan. Israel secara terbuka menyatakan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dan telah melancarkan berbagai operasi intelijen, termasuk pembunuhan ilmuwan nuklir Iran-AS, sebagai sekutu Israel, juga menerapkan sanksi keras terhadap Iran untuk menekan program tersebut
Peran Amerika Serikat dan Negara Besar
Amerika Serikat merupakan sekutu strategis Israel dan sering kali mendukung kebijakannya, termasuk dalam isu Iran. Sebaliknya, Rusia dan China sering dianggap sebagai pihak yang mendukung Iran secara tidak langsung, terutama di forum internasional seperti PBB. Konflik Iran-Israel adalah perang asimetris yang berakar pada perbedaan ideologis dan kepentingan geopolitik. Meskipun belum terjadi konfrontasi langsung berskala besar, eskalasi konflik melalui perang proksi dan perlombaan militer telah menciptakan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Solusi jangka panjang membutuhkan pendekatan diplomatik global yang inklusif serta penguatan mekanisme keamanan regional.

























