Oleh U’ul Hidayati
Prodi KPI
Konflik berkepanjangan antara Iran dan Israel telah mencapai level baru yang lebih mengkhawatirkan setelah serangan rudal dan drone Iran ke wilayah Israel pada 13–14 April 2024. Serangan ini merupakan balasan atas pemboman Israel di kompleks kedutaan Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April 2024 yang menewaskan tujuh perwira militer Iran, termasuk seorang jenderal senior. Meskipun serangan Iran tidak menimbulkan banyak korban jiwa atau kerusakan fisik yang signifikan di Israel, eskalasi konflik ini membuka peluang bagi pecahnya perang terbuka yang lebih besar di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, kondisi saat ini telah dikalkulasi oleh OCE Bank Mandiri. Dalam kajiannya di awal konflik Israel-Palestina (Mandiri, 2023), dipaparkan tiga skenario yang diproyeksikan akan membawa dampak berbeda terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan inflasi.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menjelaskan eskalasi konflik Iran-israel setelah para pemimpin pemberontak yang didukung iran seperti Hamas dan Hizbullah tewas dalam serangan yang dilakukan Israel dan dengan pergeseran dari konflik proksi menuju konfrontasi langsung. Serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh Iran terhadap Israel, dan bagaimana dampaknya terhadap keamanan timur tengah. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap kompleksitas konflik Iran-israel.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam, dengan menekankan pada makna dibalik data yang dikumpulkan. Analisis data dilakukan secara induktif, artinya pola dan konsep dibangun berdasarkan data yang ditemukan dilapangan.
Sejarah konflik Iran-israel.
Untuk diketahui, sebelumnya Iran telah mengirimkan serangan kepada Israel sejak seminggu terakhir. Dikutip dari The Guardian, tercatat sudah ada lebih dari 400 rudal yang diluncurkan oleh Iran yang menargetkan wilayah Israel. Bahkan, terdapat kisaran 200 rudal yang dikirimkan dalam jumlah rentetan. Hal ini dilakukan oleh Iran menyusul serangan yang dikirimkan oleh Israel. Lebih lanjut, serangan yang telah dilakukan oleh Israel terhadap Iran telah menghilangkan nyawa sekitar lebih dari 600 orang dan melukai lebih dari 1.300 orang. Sebaliknya, rudal yang telah diluncurkan oleh Iran di Israel juga telah menewaskan sekitar 25 orang dan ratusan orang lainnya terluka. Perang antara Iran dan Israel ini menyita perhatian publik di seluruh dunia. Terlebih lagi konflik antara kedua negara ini menyebabkan rusaknya infrastruktur, merenggut korban jiwa, hingga memicu adanya korban yang mengalami luka-luka. Lantas, apa penyebab konflik Iran dan Israel bisa pecah? Simak ulasan sejarah dan awal dimulainya serangan antara Iran dan Israel berikut ini.
Jenis Rudal Iran, Mana yang Paling Kuat di Timur Tengah? Kapan Perang Iran-Israel Dimulai?
Sebelum mengetahui penyebab terjadinya konflik antara Iran dan Israel terlebih dahulu mari memahami waktu serangan antara kedua negara tersebut dimulai. Dijelaskan dalam laman USA Today, konflik antara Iran dan Israel dimulai sejak Israel secara mengejutkan mengirimkan serangan nuklir ke Teheran, Iran yang merenggut nyawa sejumlah pemimpin militer di wilayah tersebut. Terdapat lini masa awal terjadinya serangan Israel kepada Iran, begitupula sebaliknya yang diungkap dalam laman tersebut. Sebagai gambaran bagi detikers, berikut rangkuman lini masanya. Menurut The Critical Threats Project (CPT) di American Enterprise Institute and the Institute for the Study of War (ISW), pada sekitar pukul 8 malam waktu setempat Israel mengirimkan serangan udara pertama yang ditargetkan pada program nuklir di Iran. Serangan tersebut juga turut menargetkan kepemimpinan Iran. Adapun wilayah yang ditargetkan oleh pada saat itu adalah ‘jantung’ program rudal di Republik Islam Iran. Dengan adanya serangan mendadak tersebut tercatat seluruh eselon atas komandan militer Iran di wilayah tersebut kehilangan nyawanya.
Selanjutnya, Israel kembali mengirimkan serangan kepada Iran. Pada tanggal ini serangan ditargetkan pada fasilitas senjata bawah tanah yang berada di wilayah Iran bagian barat. Bahkan, Israel telah mengebom sejumlah fasilitas energi yang ada di wilayah lain Iran, yaitu di bagian selatan.
Salah satu lokasi yang menjadi target Israel pada tanggal tersebut adalah ladang gas terbesar di Iran, yaitu South Pars. Bahkan Kementerian Perminyakan Iran memberikan informasi yang menyatakan depot Shahran juga menjadi sasaran target pengeboman. Berbeda dengan tanggal sebelumnya yang mana Israel mengirimkan serangan kepada Iran, mulai Minggu (15/6/2025) kemarin serangan balasan melalui udara juga mulai dikirimkan oleh Iran. Israel masih tetap menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran, satu di antara kawasan pemerintahan Iran. Sementara itu, Iran juga turut mengirimkan ratusan pesawat nirawak dan juga rudal. Serangan ini menargetkan pusat penelitian terkemuka hingga kilang minyak yang ada di negara tersebut.
Pada 16 Juni 2025 ini serangan Israel masih terus dikirimkan terhadap Iran. Terjadi pengeboman di pusat komando unit militer elit yang ada di kawasan Iran. Bahkan Israel berhasil menyerang pesawat tempur milik Iran. Dengan adanya serangan susulan dari Israel kali ini, beberapa pabrik pengayaan uranium terbesar yang ada di Iran mengalami kerusakan yang parah. Tidak hanya itu saja, pemadaman listrik juga sempat terjadi di Natanz, Iran. Di tanggal yang sama, pihak Amerika Serikat telah menunjukkan reaksinya terhadap konflik antara Iran dan Israel ini. Bahkan, Presiden Donal Trump mengunggah keterangan di media sosial resminya yang menyebut Iran tidak diperbolehkan memiliki senjata nuklir dan imbauan agar seluruh orang segera meninggalkan Teheran, Iran. Kemudian pada hari Selasa (17/6/2025), Israel kembali menyerang kota-kota yang berada di kawasan Iran dengan bom. Sebaliknya, beberapa rudal Iran juga telah diluncurkan ke Israel. Di tanggal inilah sejumlah infrastruktur penting di Iran mengalami kerusakan. Konflik antara Israel dan Iran terus berlanjut yang tak hanya merusak infrastruktur di beberapa wilayah yang ada di kedua negara tersebut. Akan tetapi, serangan udara yang terus-menerus dikirimkan satu sama lain juga telah merenggut korban jiwa hingga luka-luka.
Sejarah Konflik Iran-Israel
Lantas, mengapa konflik Iran dan Israel bisa pecah? Berdasarkan laporan Al-Jazeera, terdapat klaim yang diberikan oleh pemerintah Israel terkait dengan alasan negara tersebut menyerang Iran. Dikatakan oleh pemerintah Israel tindakan yang mereka ambil merupakan langkah preventif yang dilakukan guna mengatasi ancaman dari pihak Iran.
Terlebih lagi pihak Iran telah membangun bom nuklir. Oleh sebab itulah, Israel berusaha melakukan serangan pencegahan yang dimaksudkan untuk pertahanan diri yang diakibatkan oleh keadaan darurat.
Tidak hanya itu saja, terdapat juga klaim yang didasarkan pada laporan Atomic Energy Agency (IAEA) yang dirilis pada Kamis (12/6/2025) yang menyebut adanya pelanggaran materi dilakukan oleh Iran. Terutama kaitannya dengan perjanjian terhadap Treaty on the Non- Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).
Meskipun begitu klaim yang diberikan oleh pihak Israel belum dapat dibuktikan. Bahkan, pihak IAEA juga cenderung menolak klaim tersebut karena laporan tadi belum diketahui oleh pihak-pihak yang relevan.
Sementara itu, dijelaskan dalam Independent, konflik antara Israel dan Iran sebenarnya sudah terjadi selama beberapa dekade belakangan. Namun, konflik tersebut hanya sebatas sebagai ‘perang bayangan’ semata.
Adapun sejarah konflik Iran dan Israel tak terlepas dari sejarah panjang terkait dengan serangan klandestin yang dilakukan melalui darat, laut, udara, hingga dunia maya. Sebagai informasi, istilah klandestin merujuk pada secara rahasia, secara gelap, hingga secara diam-diam.
Tercatat kedua negara tersebut sebelumnya adalah sekutu. Ini terjadi sebelum Islamic Revolution di tahun 1979 silam. Namun, sejak rezim teokratis baru yang bertentangan dengan keberadaan Israel dan juga ambisi nuklir di Teheran, Iran yang dianggap sebagai ancaman eksistensial, maka Israel mulai melakukan penyerbuan.
Tak hanya sampai di situ saja, diungkap dalam sumber yang sama, Teheran ternyata juga mendanai Hamas di Gaza. Sementara itu, Hamas diklaim telah memicu perang di Gaza. Sejak tahun 2023 silam, Israel telah banyak menghilangkan nyawa kepemimpinan senior kelompok Hamas.
Eskalasi konflik Perang Iran vs Israel Terhadap perekenomian
Konflik antara Iran dan Israel merupakan salah satu pusat ketegangan geopolitik yang signifikan di Timur Tengah. Dinamika ini semakin memanas dengan serangan yang terjadi pada kedutaan besar Iran di Suriah, yang dilakukan oleh Israel. Peristiwa ini memicu eskalasi yang berujung pada pertukaran serangan militer, dengan Iran meluncurkan serangan misil dan drone ke wilayah Israel pada 14 April 2024. Konflik seperti ini tidak hanya menimbulkan kerusakan dan korban jiwa tetapi juga membawa ketidakstabilan ekonomi global yang luas.
Dampak Perang Iran vs Israel terhadap Ekonomi Global
Ketika konflik bersenjata pecah di Timur Tengah, dampak langsungnya sering kali terasa pada pasar energi global, khususnya minyak dan gas, yang merupakan komoditas kritikal dalam perekonomian dunia. Kenaikan harga energi ini memiliki implikasi luas, tidak hanya meningkatkan biaya hidup secara umum tetapi juga menambah tekanan inflasi yang berdampak pada skala global.
Pengaruh Konflik pada Harga Minyak
Persepsi Risiko Pasokan: Iran dan Israel terletak di dekat beberapa jalur paling penting untuk pengiriman minyak. Ketakutan atas gangguan dalam pasokan—baik nyata maupun spekulatif—cenderung mendorong harga minyak ke atas. Investor dan pedagang dalam pasar komoditas minyak sering bereaksi terhadap potensi risiko sebelum dampak nyata terjadi pada pasokan.
Spekulasi Pasar: Perang atau ketegangan sering memicu spekulasi di pasar komoditas. Pelaku pasar yang berusaha mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan bisa menimbulkan fluktuasi harga yang tajam dan sering tidak berbasis pada perubahan aktual dalam pasokan dan permintaan.
Respon Produsen Minyak: Negara-negara produsen minyak, melalui organisasi seperti OPEC, mungkin memilih untuk menyesuaikan produksi mereka sebagai respon terhadap krisis, baik untuk stabilisasi harga atau sebagai taktik politik. Perubahan ini juga dapat mempengaruhi harga minyak global.
Dampak pada Inflasi Global
Biaya Transportasi dan Produksi: Naiknya harga minyak secara langsung meningkatkan biaya transportasi—yang merupakan bagian kritis dari rantai pasokan untuk hampir semua produk. Ini tidak hanya meningkatkan biaya barang yang diangkut tetapi juga harga bahan baku, yang kemudian mempengaruhi biaya produksi barang dan jasa di seluruh dunia.
Dampak Sektor Lain: Kenaikan harga minyak mentah berdampak pada industri lain yang bergantung pada energi atau bahan baku berbasis minyak, seperti plastik dan pupuk. Industri yang sangat bergantung pada energi, seperti manufaktur dan transportasi, mengalami kenaikan biaya operasional, yang umumnya dibebankan pada harga akhir bagi konsumen. Selain itu kenaikan harga komoditas minyak akan menyebabkan kenaikan terhadap harga komoditas energi substitusi dari minyak, seperti gas alam dan Batubara.
Inflasi yang Dipercepat: Kenaikan harga minyak menyebabkan inflasi input yang lebih tinggi, yang kemudian diteruskan ke harga konsumen, meningkatkan tingkat inflasi keseluruhan. Dalam ekonomi yang sudah mengalami tekanan inflasi, seperti banyak negara saat ini, dampak ini bisa menjadi signifikan dan memicu kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral.
Dampak Perang Iran vs Israel pada Ekonomi Indonesia
Bagi Indonesia, konflik ini memperbesar risiko ekonomi melalui beberapa sektor. Pertama, peningkatan harga minyak mentah global secara langsung mempengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) domestik. Karena subsidi energi yang besar di Indonesia, pemerintah dapat dipaksa untuk menambah jumlah subsidi energi atau menghadapi kemarahan publik karena kenaikan harga BBM. Kedua, kenaikan harga BBM berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang, sehingga meningkatkan harga barang secara umum dan memicu inflasi.
Inflasi Karena Naiknya Harga Minyak Global
Konflik antara Iran dan Israel secara langsung mempengaruhi pasar minyak global. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dunia. Ketika harga minyak meningkat, biaya impor minyak untuk Indonesia juga naik, yang berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) domestik.
Peningkatan Harga BBM: Peningkatan harga minyak mentah global berarti pemerintah Indonesia harus mempertimbangkan penyesuaian harga BBM, yang bisa mengakibatkan kenaikan harga BBM dan peningkatan beban subsidi.
Dampak terhadap Transportasi dan Barang: Kenaikan harga BBM mengakibatkan naiknya biaya transportasi. Biaya transportasi yang lebih tinggi berdampak pada hampir semua barang yang ditransportasikan, dari bahan makanan hingga barang konsumsi, yang pada akhirnya meningkatkan harga-harga tersebut bagi konsumen.
Implikasi untuk Inflasi: Melonjaknya harga-harga barang berarti inflasi akan naik, yang mengurangi daya beli masyarakat. Inflasi yang tinggi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi karena menurunkan konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis.
Inflasi Akibat Melonjaknya Harga Gas dan Batubara
Meningkatnya harga minyak sering kali diikuti oleh kenaikan harga bahan bakar substitusi lainnya, seperti gas dan batubara, yang merupakan sumber energi utama untuk pembangkit listrik dan pabrik di Indonesia.
Kenaikan Biaya Energi: Gas dan batubara memainkan peran penting dalam pasokan energi Indonesia. Kenaikan harga komoditas ini menaikkan biaya operasional untuk pembangkit listrik dan pabrik, yang kemudian berdampak pada biaya yang lebih tinggi bagi konsumen dan industri.
Dampak terhadap Produksi dan Manufaktur: Peningkatan biaya produksi membuat harga produk akhir naik. Industri yang sangat bergantung pada energi, seperti manufaktur, akan melihat peningkatan biaya signifikan yang mungkin akan berdampak pada harga jual.
Efek pada Inflasi Keseluruhan: Seperti dengan minyak, kenaikan harga gas dan batubara akan berkontribusi pada inflasi umum, memperburuk kondisi ekonomi yang sudah tertekan oleh biaya energi yang lebih tinggi.
Inflasi Hasil Dari Meningkatnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika
Dalam ketidakpastian global, investor cenderung mencari keamanan di instrumen investasi “safe haven” seperti Dollar Amerika dan emas. Ini dapat menyebabkan nilai tukar Rupiah terdepresiasi terhadap Dollar, yang memiliki konsekuensi langsung pada ekonomi Indonesia.
Penurunan Nilai Tukar: Ketika Rupiah melemah terhadap Dollar, harga impor—termasuk bahan baku dan barang-barang konsumsi—menjadi lebih mahal.
Pengaruh terhadap Harga Impor: Peningkatan harga barang impor berdampak pada konsumen Indonesia, yang menyebabkan kenaikan harga barang-barang yang mereka beli.
Efek Lanjutan pada Inflasi: Depresiasi Rupiah dan kenaikan harga impor menambah tekanan inflasi, memperburuk dampak ekonomi dari kenaikan harga energi dan mengurangi daya beli masyarakat.
Dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak stabil ini, strategi investasi yang bijaksana menjadi sangat penting. Jangan sampai uang yang kita miliki tergerus inflasi akibat ketidakpastian perang ini.
Konflik Iran–Israel 2025 ini adalah pelajaran keras bahwa dalam era digital, perang tidak lagi hanya terjadi di medan tempur fisik, tetapi juga di ruang imajinasi publik. Siapa yang menguasai narasi, dialah yang bisa menguasai arah dukungan dan legitimasi. Kebenaran tidak lagi murni berdiri sendiri, melainkan bersaing dengan ribuan versi kenyataan yang dikemas sedemikian rupa oleh media.
Karena itu, penting bagi publik untuk mengembangkan sikap skeptis sehat terhadap informasi. Tidak semua video viral adalah bukti. Tidak semua pemberitaan objektif. Tidak semua narasi mewakili kebenaran. Kita perlu mengasah kemampuan membedakan antara berita dan propaganda, antara empati dan eksploitasi emosi, antara narasi dan realitas.
Dunia kini sedang menyaksikan dua negara bertempur bukan hanya dengan roket, tetapi dengan konten. Dan di tengah derasnya arus informasi, publik adalah wilayah rebutan yang paling strategis. Di sinilah pentingnya memahami bahwa menjadi pembaca, penonton, dan pengguna media hari ini adalah juga menjadi bagian dari medan tempur itu sendiri— sekaligus menjadi pihak yang paling bisa dirugikan jika tak waspada.
Jika perang ini akan berakhir, ia mungkin tak hanya ditentukan di meja diplomasi atau melalui keunggulan militer. Tapi juga oleh siapa yang berhasil menanamkan persepsi yang bertahan paling lama di benak publik dunia.
Kesimpulan
Konflik antara Israel dan Iran merupakan salah satu dinamika paling kompleks dan berkelanjutan di Timur Tengah, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor politik, ideologi, dan sejarah. Setelah Revolusi Iran 1979, hubungan antara kedua negara ini berubah drastis, dengan Iran mengadopsi kebijakan luar negeri yang anti-Israel dan mendukung kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan Hamas. Ketegangan ini semakin meningkat seiring dengan program nuklir Iran, yang dipandang oleh Israel sebagai ancaman eksistensial yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.
Eskalasi konflik ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral antara Israel dan Iran, tetapi juga berpotensi menarik keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Rusia, yang memiliki kepentingan strategis di kawasan tersebut. Serangan militer yang dilakukan oleh Israel terhadap para pemimpin kelompok proksi Iran dan respons dari Iran menunjukkan bahwa konflik ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya, dengan risiko terjadinya perang terbuka dan proliferasi senjata.
Oleh karena itu, analisis yang mendalam mengenai faktor-faktor yang memicu ketegangan ini sangat penting untuk memahami implikasinya terhadap stabilitas regional dan global. Penelitian ini menekankan perlunya pendekatan yang komprehensif dalam menangani konflik ini, serta pentingnya dialog dan diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mencapai solusi yang berkelanjutan di Timur Tengah.

























