Jakarta, 03 Februari 2026– Ditengah kesenjangan keterampilan (Skill Gap), Banyak pelaku ekonomi kreatif yang memiliki ide brilian namun kurang memahami teknis penggunaan alat dan pemasaran digital.
Dalam webinar yang digelar pada Selasa 03, Februari 2026 STAI PTDII mengundang langsung Narasumber dari Sekjen Kementerian komunikasi dan Digital RI (Komdigi RI) Dr.Ismail.,MT.
Dalam penyampaian nya, Pemerintah memang saat ini masih fokus terhadap ancaman cyber yang kerap kali mengancam pengguna bisnis digital.
“Hal demikian selalu menjadi catatan khusus kami, apalagi kemarin kalau kita lihat banyak sekali ancaman cyber di berbagai platform digital”, papar dia.
Dilain hal juga, ia menyoroti antusiasme pala pelaku usaha yang banyak menggunakan platform digital untuk berbisnis
“Ya tentu kalau kita lihat di berbagai platform seperti tiktok, dan Instagram semakin menjamur,” ucapnya.
Selain itu dalam acara ini, Ketua STAI PTDII, Syifa Awalia.,MM, selaku narasumber juga menyampaikan pemanfaatan platform digital sebagai wadah bisnis juga memiliki andi besar.
“Jadi ya, kalau kita lihat hari ini bisnis digital sudah menjamur sekali di berbagai kalangan , namun yang saya lihat pemerintah kita belum menyiapkan regulasi khusus tentang kecepatan perkembangan teknologi dan model bisnis baru” ucapnya.
Ketua STAI PTDII menyoroti masih adanya pelaku usaha bisnis yang belum optimal
“Di kita (Indonesia) agak susah kalau kita mau jual produk seperti sambal di platform digital, kalau kita ambil contoh negara Amerika, itu sudah efektif soal regulasi penjualan nya dan gampang di akses,” tegasnya.
Dilain hal Ketua Umum Badan Wirausaha Muda Indonesia (BMWI), Syamsul Hidayah, M.Kep salah satu praktisi bisnis menyampaikan bahwa anak muda Indonesia harus memiliki mindset berbisnis sejak dini dan fokus.
Acara ini kemudian ditutup oleh Moh.Sitoh Anang, M.Kom,I, selaku dosen KPI PTDII memberikan kritikan terhadap bisnis digital di Indonesia
“Kalau kita lihat, ketegangan politik global sangat mempengaruhi peluang bisnis dan usaha digital hari ini, jelas yang sering di hadapi adalah soal untung rugi nya, dan kita masih harus banyak belajar dari negara-negara maju,” tutup Anggota Dewan Kota Jakarta Utara tersebut.

























