SelidikiNews.com, Jakarta – Pergantian tahun selalu dirayakan dengan suka cita oleh semua orang di seluruh dunia.
Biasanya, pergantian tahun Masehi yang berlangsung dari tanggal 31 Desember hingga 1 Januari dirayakan dengan pesta meriah, membuat resolusi, dan lain sebagainya.
Lalu, bagaimana sejarah perayaan tahun baru Masehi bermula?
Dipelopori oleh masyarakat Mesopotamia
Perayaan pergantian tahun atau tahun baru telah dilakukan oleh masyarakat Mesopotamia pada sekitar 2000 SM.
Mereka merayakan pergantian tahun saat matahari tepat berada di atas khatulistiwa, yang sekarang bertepatan pada tanggal 20 Maret.
Perayaan tradisional seperti itu disebut Nowruz, yang sampai saat ini masih dilakukan di beberapa negara Timur Tengah. Setelah itu, peradaban di seluruh dunia juga tercatat merayakan tahun baru yang didasari oleh berbeda peristiwa.
Misalnya di China, tahun baru ditandai ketika terjadi bulan baru kedua setelah titik balik matahari pada musim dingin.
Baca juga: Jelang Tahun Baru 2023, Kapolsek Ukui Siapkan Personil Pengamanan Nataru
Perayaan tahun baru pada 1 Januari Perayaan tahun baru pada 1 Januari pertama kali dilakukan pada 46 SM, pada masa kekuasaan Kaisar Romawi, Julius Caesar.
Kala itu, Julius Caesar memutuskan mengganti penanggalan Romawi yang terdiri dari 10 bulan (304 hari), yang dibuat oleh Romulus pada abad ke-8.
Dalam mendesain kalender baru, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi asal Iskandariyah, Mesir.
Sosigenes menyarankan agar penanggalan baru dibuat berdasarkan revolusi matahari, seperti yang dilakukan orang Mesir kuno.
Setelah itu, 1 Januari resmi ditetapkan sebagai hari pertama tahun, di mana satu tahun terdiri atas 365 seperempat hari.
Nama Januari diambil dari nama dewa dalam mitologi Romawi, yaitu Dewa Janus, yang memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan ke belakang.
Masyarakat Romawi meyakini bahwa Dewa Janus adalah dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk.
Julius Caesar juga setuju untuk menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM, sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.
Untuk menghormati Dewa Janus, maka orang-orang Romawi mengadakan perayaan setiap tanggal 31 Desember tengah malam untuk menyambut 1 Januari.
Selain itu, Julius Caesar memerintahkan setiap empat tahun sekali, satu hari ditambahkan pada bulan Februari.
Penanggalan ini kemudian dikenal dengan nama Kalender Julian, diambil dari nama Julius Caesar.
Baca juga: Sejarah Kembang Api yang Jadi Penanda Perayaan di Seluruh Dunia, Kamu Wajib Tahu!
Perayaan tahun baru Masehi
Saat Kalender Julian pertama kali diterapkan, memang belum memasuki tahun Masehi. Tahun Masehi baru dihitung sejak kelahiran Isa Al-Masih dari Nazaret, yang mulai diadopsi di Eropa Barat pada sekitar abad ke-8.
Dalam perkembangannya, Kalender Julian dimodifikasi sedemikian rupa menjadi Kalender Gregorian.
Kalender Gregorian yang dicetuskan oleh Dr. Aloysius Lilius disetujui oleh pemimpin tertinggi umat Katolik di Vatikan, Paus Gregory XIII pada 1582.
Sistem Kalender Gregorius inilah yang kemudian ditetapkan negara-negara di seluruh dunia.
Sejak saat itu, setiap tanggal 31 Desember malam dilakukan perayaan pergantian tahun yang semakin meriah di seluruh belahan dunia. Namun, sebagian tokoh Muslim berpendapat, perayaan tahun baru Masehi menurut pandangan Islam tidak diperbolehkan.
Sementara dalam pandangan ulama lain, perayaan tahun baru bisa dirayakan dengan batas wajar dan sebagai tanda bersyukur kepada Tuhan.
Perayaan Tahun Baru Masehi telah berkembang dan mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman.
Saat ini, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara yang berbeda-beda di seluruh dunia.
Di beberapa negara, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara merayakannya di malam tahun baru dengan mengadakan pesta, menyalakan kembang api, dan lain-lain.
Misalnya, di Amerika Serikat, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara menyalakan kembang api di Times Square, New York. Di sini, orang-orang berkumpul di Times Square untuk menyaksikan kembang api yang dipicu oleh bola kristal yang turun dari atap gedung tinggi selama 60 detik pada menit-menit terakhir dari tahun lalu.
Di negara lain, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara beribadah dan berkumpul bersama keluarga.
Di negara lain, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara beribadah dan berkumpul bersama keluarga.
Misalnya, di Jepang, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara melakukan ibadah di kuil dan berkumpul bersama keluarga. Orang-orang juga biasanya menyantap makanan khas seperti mochi (sejenis kue yang terbuat dari beras), herring roe, dan sake (minuman beralkohol dari beras).
Di beberapa negara, perayaan Tahun Baru Masehi juga diperingati dengan cara mengadakan perayaan tradisional yang khas.
Misalnya, di China, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara mengadakan Festival Tahun Baru Imlek yang merupakan perayaan terbesar di negara tersebut.
Festival ini diperingati selama sekitar satu bulan penuh dan merayakan awal tahun baru menurut kalender Tionghoa. Selama Festival Tahun Baru Imlek, orang-orang mengenakan pakaian warna merah, menyalakan kembang api, dan mengadakan pertunjukan tari tradisional.
Perayaan Tahun Baru Masehi juga diperingati di negara-negara lain di dunia, seperti di Brazil, Meksiko, dan lain-lain.
Di Brazil, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara mengadakan pesta di pantai dan menyalakan kembang api.
Di Meksiko, perayaan Tahun Baru Masehi diperingati dengan cara mengadakan pertunjukan tari tradisional dan menyalakan kembang api.
Perayaan Tahun Baru Masehi telah menjadi salah satu perayaan yang paling populer di seluruh dunia, dengan merayakannya di hampir semua negara di dunia. Perayaan ini menjadi simbol pertukaran tahun baru dan memberi kesempatan kepada orang untuk memulai tahun baru.
Referensi: Ismail, Faisal. (2017). Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Klasik (Abad VII-XII M). Yogyakarta: IRCiSoD.























