Kapolri Listyo Sigit PrabowoSelidikiNews.com, Yogyakarta – Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menghimbau dan mengingatkan generasi muda untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan fenomena baru yang menggabungkan jaringan narkoba dengan terorisme, yang kini dikenal di seluruh dunia sebagai ‘narkoterorisme’.
“Kelompok teroris saat ini telah bergabung dengan jaringan narkoba, yang dikenal sebagai ‘narkoterorisme’. Fenomena ini adalah tantangan yang sedang kita hadapi saat ini di Indonesia,” kata Listyo Sigit Prabowo saat memberikan kuliah kebangsaan dengan tema “Generasi Berkemajuan dalam Perspektif Keamanan Berbangsa Bernegara” di Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, pada hari Jumat.
Menurut Kapolri, para pengedar narkoba dan kelompok teroris kini menggunakan pendekatan yang lebih halus dalam upaya mereka untuk mempengaruhi generasi muda. Mereka mencari cara-cara untuk menyasar generasi muda dengan memanfaatkan minat dan hobi mereka.
Baca juga: Patroli Bersama, TNI-Polri diKecamatan Langgam Patroli Karhutlah
“Mereka bergerak dengan cara yang sangat hati-hati, tetapi kemudian kita terjerat. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati,” ujarnya kepada ribuan mahasiswa yang hadir.
Kapolri mengingatkan bahwa peredaran narkoba harus tetap diwaspadai, mengingat jumlah pecandu narkoba di seluruh dunia telah meningkat sekitar 45 persen dalam 10 tahun terakhir, mencapai total 39,5 juta orang.
Di Indonesia, jumlahnya juga cukup signifikan, dengan lebih dari 4,8 juta penduduk yang terpapar narkoba.
“Ini adalah masalah yang sedang kita hadapi saat ini, tetapi kami terus berupaya untuk mengungkap dan menanganinya,” ucapnya.
Kapolri mengungkapkan bahwa kepolisian telah berhasil mengamankan 37.607 pelaku pengguna narkoba, termasuk beberapa oknum kepolisian. “Tidak peduli pangkat oknum polisi itu apa, kami akan melakukan proses hukum,” katanya.
Dia juga menyatakan bahwa generasi muda, termasuk mahasiswa, masih rentan terpapar narkoba, terutama karena pengaruh lingkungan sekitar mereka.
“Awalnya, mereka mungkin diajak oleh teman-temannya, diperkenalkan, kemudian karena sering di-bully, akhirnya mereka mencobanya. Setelah mencoba, mereka ingin mencobanya lagi karena mungkin diberikan gratis. Setelah kecanduan, itulah saat bencana datang,” ungkapnya.
Kapolri juga menyoroti bahaya terorisme dan radikalisme yang masih mengincar generasi muda dengan menggunakan agama sebagai kedoknya. “Penyebaran ideologi ini sangat mudah melalui internet, dan mereka menggunakan pendekatan yang lebih halus,” tambah Kapolri.
Baca juga: 11 Desa di Maluku tengah deklarasi damai akhiri konflik antardesa

























