Selidiki.com, Gorontalo – Terkait permintaan ganti kerugian terhadap mahasiswa atas kerusakan alat peraga yang di timbulkan saat praktikum, LSM KIBAR pertanyakan anggaran pengunaan jasa Laboratorium Universitas Negri Gorontalo yang sering di gunakan pihak rekanan untuk uji Laboratorium material dan lainnya, kuat dugaan alat yang rusak tersebut juga sering digunakan untuk komersil.
Hal ini perlu dipertanyakan tentang anggaran yang dibayarkan oleh sejumlah rekanan disetorkan entah kemana.
Diinformasikan bahwa Laboratorium Universitas Negeri Gorontalo (UNG), salah satu Laboratorium yang sering digunakan sejumlah rekanan untuk pengujian material dan lainnya dengan budget yang lumayan Fantastis, sehingga bukan tidak mungkin fasilitas untuk praktikum mahasiswa berupa alat peraga yang ada sering di gunakan sebagai alat komersil dengan penghasilan yang lumayan besar, jika kemudian kerusakan yang ditimbulkan akibat praktikum dibebankan kepada mahasiswa, maka perlu di pertanyakan kemana anggaran hasil Uji Laboratorium yang dikomersilkan pihak Laboratorium UNG untuk pemenuhan persyaratan Rekanan.
Terkait hal ini, LSM KIBAR yang ditemui media, mempertanyakan kemana anggaran hasil komersil Laboratorium UNG yang selama ini digunakan oleh sejumlah rekanan untuk pemenuhan syarat pelaksanaan kegiatan proyek, kami menduga anggaran yang dihasilkan cukup besar sehingga perlu dipertanyakan disetorkan kemana anggaran tersebut.
Mengingat alat yang rusak oleh mahasiswa dibebankan ganti kerugian kepada mahasiswa hingga puluhan juta.
Kepada jurnalis selidiki news, Ketua LSM KIBAR Hengki Maliki memberikan pernyataan tegas kepada aparat penegak hukum agar segera menindak lanjuti terkait laporan ini serta menyelidiki anggaran hasil Uji Laboratorium UNG dengan budget yang sangat fantastis ini, yang dibayarkan rekanan, untuk pemenuhan administrasi pelaksanaan proyek.
Karena mengunakan fasilitas kampus UNG atau fasilitas alat peraga mahasiswa, jangan sampai anggarannya “nyasar” atau tidak sepenuhnya di setorkan, yang kemudian kerusakan alat peraga dibebankan kepada mahasiswa hingga puluhan juta rupiah tukas Hengki.
Lanjut Hengki, jika kemudian anggaran ditemukan ada penyelewengan, maka kami meminta aparat penegak hukum menindak tegas, karena ulah oknum-oknum ini, jika perlu Rektor UNG dipanggil dimintai keterangannya terkait hal ini dapat menghambat jalannya kegiatan perkuliahan.
Ironisnya sampai berita ini diturunkan belum ada pihak UNG yang bisa di temui. (SYH)

























