IDHAM CHALID: PEMIMPIN YANG HIDUP UNTUK MENGABDI
Selidikinews.com, Kotabaru – Di sebuah kampung kecil di Setui, Kotabaru, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1921 lahir seorang anak Banjar yang kelak menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ia diberi nama Idham Chalid.
Sejak kecil, Idham tumbuh dalam lingkungan religius, pendidikan awalnya ditempuh di pesantren dan madrasah, di mana ia belajar Al-Qur’an, ilmu agama, serta dasar-dasar kepemimpinan yang bersumber dari nilai Islam dan budaya Banjar.
Jiwa mudanya ditempa oleh tradisi kemandirian dan kesederhanaan, ciri khas masyarakat Banjar yang hidup dekat dengan sungai, alam, dan kerja keras.
Perjalanan ke Panggung Nasional
Idham Chalid bukan sekadar ulama. Ia juga intelektual muda dengan kemampuan organisasi yang luar biasa.
Karier politiknya melesat ketika ia bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Pada usia yang relatif muda, ia sudah dipercaya memimpin NU Tanfidziyah pada tahun 1956.
Luar biasa, karena ia kemudian memimpin NU selama 28 tahun, menjadikannya Ketua Tanfidziyah NU terlama dalam sejarah.
Di panggung nasional, namanya harum. Idham pernah menjabat Wakil Perdana Menteri RI, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR, dan bahkan Ketua MPR.
Semua jabatan itu diembannya bukan untuk memperkaya diri, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Kesederhanaan Seorang Pemimpin
Di masa ketika banyak pejabat menikmati fasilitas mewah, Idham dikenal sederhana.
Ia tidak membawa pulang mobil dinas, tidak menuntut rumah mewah, dan keluarganya pun hidup biasa saja.
Bahkan, setelah pensiun dari hiruk pikuk politik, ia kembali mengabdikan diri pada dunia pendidikan.
Di Cipete Selatan, ia membangun sebuah pondok pesantren, mengajar santri-santri muda dengan penuh kesabaran.
Di Cisarua, ia mengurus rumah yatim, memastikan anak-anak terlantar tetap memiliki harapan. Semua itu ia lakukan tanpa pamrih.
Bagi Idham, jabatan hanyalah sarana untuk mengabdi, bukan jalan menuju kekayaan.
Akhir Perjalanan
Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 dalam usia 88 tahun. Bangsa Indonesia mengenangnya sebagai tokoh agama, politisi, sekaligus pendidik.
Bank Indonesia pun mengabadikan wajahnya dalam pecahan Rp5.000, sebagai simbol kesederhanaan dan pengabdian.
Cermin Untuk Pemimpin Masa Kini
Kisah hidup Idham Chalid mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tetap sederhana meski pernah memegang kekuasaan besar.
Ia membuktikan bahwa keteladanan lebih abadi daripada harta.
Berbeda dengan kondisi banyak pejabat hari ini: jabatan sering dipandang sebagai jalan menuju kenyamanan hidup, bergelimang fasilitas, namun miskin prestasi. Alih-alih berfokus pada pengabdian, mereka justru sibuk mempertahankan privilese.
Seharusnya, jabatan publik tidak diukur dari besar kecilnya tunjangan, mobil dinas, atau fasilitas mewah lainnya.
Ukuran sejati seorang pejabat negara hanyalah satu: kinerja dan amanah.
Maka, bila fasilitas hanya melahirkan kelalaian, lebih baik gaji diberikan sesuai capaian kerja nyata—agar pejabat kembali merasakan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hadiah.
Dengan begitu, semangat Idham Chalid tetap hidup: pemimpin yang sederhana, bersahaja, namun penuh pengabdian.
Cakra Langit
Ketua Harian DPP JURI























