SelidikiNews.com, Jakarta – Video dari TikToker asal Lampung, Bima Yudho Saputro, kembali menjadi viral.
Setelah sebelumnya mengkritik kondisi infrastruktur jalan di Lampung, kali ini Bima menyinggung Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, dengan menyebutnya sebagai seorang janda. Tak heran jika video ini menjadi perbincangan publik.
Video berdurasi 23 detik tersebut diunggah oleh Bima melalui akun TikTok @awbimaxreborn pada Senin, 3 April 2023.
Pada saat dilihat oleh SelidikiNews.com pada hari ini sekitar pukul 10.44 WIB, video tersebut telah ditonton sebanyak 5,9 juta kali.
Tak hanya ditonton, video tersebut juga mendapatkan 447 ribu suka dan 11,5 ribu komentar dari pengguna TikTok.
Baca juga: Viral! Perbaikan Jalan di Lampung Bikin Netizen Terkagum dengan “Bima Effect”?
Dalam video tersebut, Bima memasukkan potongan video ketika jurnalis Najwa Shihab sedang mewawancarai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tentang alasan menolak Timnas Israel untuk bertanding di Piala Dunia U-20 yang sedang digelar di Indonesia.
Najwa bertanya kepada Ganjar apakah keputusan tersebut atas perintah dari Megawati Soekarnoputri atau tidak. Video kemudian langsung beralih ke penuturan Bima.
“Udah ketebak dah, lagian disuruh ngomong sama itu janda, janda satu itu, lo nurut. Aduh udah deh enggak usah ditanggepin,” kata Bima.
Politikus senior PDIP, Hendrawan Supratikno, menilai bahwa Bima menderita sindrom popularitas. Menurutnya, seharusnya Bima bisa memperkaya diri dengan pengetahuan yang substansial.
Baca juga: Megawati Umumkan Ganjar Pranowo Capres PDIP 2024
“Anak-anak muda yang terkena sindrom popularitas harus lebih memperkaya diri dengan pengetahuan yang substansial. Jika tidak, instrumen komunikasi yang viral dijejali dengan tontonan dangkal dan tanpa etika,” ujar Hendrawan kepada media SelidikiNews.com, pada hari Minggu (23/4).
Hendrawan juga menekankan pentingnya kritis dan kreativitas, namun harus disertai dengan adab yang tepat.
Kritik yang memadai haruslah berdasarkan pemahaman ilmiah dan kearifan kultural yang memadai.
Hal ini akan menghasilkan kritik yang bermakna dan mampu membangun, bukan malah mengundang cemoohan dan kekonyolan yang menggelikan.

























