Selidikinews.com, Klaten – Audiensi lanjutan yang digelar di Kecamatan Wedi menghadirkan Camat Wedi, Kapolsek, Komandan Koramil, para kepala desa, RT/RW, serta warga RW 9 Sukorejo untuk membahas polemik terkait larangan masuknya alat pertanian modern (combine harvester) pada Jum’at (28/11/25).
Turut hadir dan mengikuti jalannya audiensi, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, bersama Kepala Inspektorat, Kepala Dinas Pertanian, serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat untuk mendengarkan langsung kronologi kejadian yang sempat menjadi sorotan publik.
Dari hasil audiensi terungkap bahwa polemik yang viral beberapa waktu lalu merupakan puncak dari serangkaian persoalan sebelumnya.
Sebelum insiden pelarangan combine terjadi, beberapa proses panen oleh pihak berbeda di area yang sama pernah menyebabkan kerusakan jalan dan talud akibat penggunaan alat panen modern.
Kerusakan tersebut tidak diikuti tanggung jawab dari pelakunya, sehingga memicu warga membuat kesepakatan pembatasan penggunaan combine yang kemudian berdampak pada kejadian viral tersebut.
Dua audiensi sebelumnya menghasilkan keputusan agar pemilik lahan memanen secara manual dengan bantuan buruh tani.
Meski demikian, pemilik lahan masih menyimpan kekecewaan karena belum dapat menggunakan combine harvester seperti rencana awal.
Dalam audiensi ketiga di kecamatan yang juga dihadiri Bupati Klaten, seluruh pihak termasuk kepala desa, RT/RW, dan warga RW 09 akhirnya menyepakati aturan baru.
Warga tidak lagi menolak penggunaan alat pertanian modern, dengan ketentuan bahwa setiap pengguna wajib menjaga fasilitas umum dan infrastruktur desa.
Kesepakatan juga mencakup penetapan jalur khusus bagi combine harvester guna mencegah kerusakan ulang.
Bupati Hamenang memastikan bahwa ke depan tidak akan ada lagi penolakan terhadap combine, karena jalur baru telah disiapkan dan tanggung jawab atas kerusakan akan ditegakkan penuh.
“Akhirnya timbul kesepakatan warga, nah hari ini kemudian kita duduk bareng mencari solusi ke depan, termasuk kita juga mengusahakan jalan baru tapi harus ada kesepakatan warga untuk mengurangi beberapa tanahnya agar kemudian bisa dijadikan jalan nanti pembangunan dari pemkab”, ujar Hamenang.
Dengan tercapainya titik temu ini, seluruh pihak berharap tidak ada lagi kejadian serupa di masa mendatang.
Teknologi pertanian modern tetap didorong untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat luas dan keberlanjutan infrastruktur desa.
“Mohon doanya masalah ini insyaAllah selesai sehingga ke depan tidak ada kejadian lagi seperti ini”, tutup Hamenang mengakhiri polemik tersebut.
Cakra Langit
Diaspora Klaten























